Jumat, 28 Agustus 2009

Karl Marx Adalah Keturunan Yahudi

Karl Heinrich Marx (1818-1883) adalah seorang Yahudi atheis asal Jerman. Nama Ibrani Marx adalah Moses Mordechai Levy dan merupakan keturunan rabbi (silsilah lengkap Karl Marx terdapat dalam Encyclopedia Britanica, vol 11, Chicago, 1984, hlm 459) Karya Marx yang paling terkenal adalah Das Kapital (1867) dan Manifest der Kommunistischen Partei (1848). Karena kedua karya inilah Marx dikenal sebagai Bapak Sosialisme dan Komunisme.
Selain Rothschild* di Jerman terdapat dua keluarga Yahudi yang sangat berpengaruh, yaitu keluarga Oppenheim dan Oppenheimer. Sebelum menjadi kaya raya, Meyer Amschel Rothschild pernah bekerja di salah satu bank milik Oppenheimer. Keluarga Oppenheimer yang berbasis di Bavaria, merupakan salah satu anggota pertama Illuminati (salah satu organisasi besar Yahudi) Bavaria yang yang didirikan Adam Weishaupt. Salah satu organisasi terdepan Illuminati adalah Bund der Gerechten (Liga Keadilan), yang hampir sepenuhnya dijalankan oleh orang-orang Yahudi penganut satanisme, termasuk keluarg Oppenheim. Liga yang sebagian didanai keluarga Rothschild inilah yang mendanai Karl Marx, anggota Freemasonry yang juga seorang satanis, untuk menulis manifesto partai komunis (Manifest der Kommunistischen Partei). Marx ikut serta dalam pemberontakan komunis pertama di Jerman pada tahun 1848, pemberontakan ini didalangi oleh Heinrich Oppenhein dari Bund der Gerechten. Setelah pemberontakan digagalkan, pada tahun berikutnya Marx diusir dari Jerman kemudian pindah ke London, Inggris. Dengan demikian sangat keliru apabila kita mengira bahwa Marx menulis manifesto komunis atas inisiatifnya sendiri.
Sosialisme-Komunisme merupakan antitesis Liberalisme-Kapitalisme. Pemikiran yang kontradiktif semcam ini memang sengaja diciptakan Yahudi untuk menimbulkan kekacauan dalam masyarakat, sebagaimana disebutkan dalam The Protocols of Zion di bawah ini:

(Protocol 2 alinea 3)
“Do not suppose for a moment that these statements are empty words: think carefully of the successes we arranged for Darwinism, Marxism, Nietzsche-ism. To us Jews, at any rate, it should be plain to see what a disintegrating importance these directives have had upon the minds of the GOYIM (non-Jew)”

(Protocol 5 alinea 10)
“IN ORDER TO PUT PUBLIC OPINION INTO OUR HANDS WE MUST BRING IT INTO A STATE OF BEWILDERMENT BY GIVING EXPRESSION FROM ALL SIDES TO SO MANY CONTRADICTORY OPINIONS”

(Protocol 10 alinea 10)
“Liberalism produced Constitutional States, which took the place of what was the only safeguard of the GOYIM (non-Jew), namely, Despotism; and A CONSTITUTION, AS YOU WELL KNOW, IS NOTHING ELSE BUT A SCHOOL OF DISCORDS, misunderstandings, quarrels, disagreements, fruitless party agitations, party whims - in a word, a school of everything that serves to destroy the personality of State activity”
*Untuk mengetahui Klan Rothschild selengkapnya lihat Taufik Adisusilo, Dinasti Yahudi, Yogyakarta, Garasi, 2009.