SATU KATA, "POLITIK"
Tidak ada lagikah kini cita-cita nasional yang bisa menyatukan polis, bangsa dan masyarakat? Atau tak ada lagikah kini politisi yang sanggup mengemban maksud-maksud tersebut? Diskreditasi politik lebih dari sekedar itu: ini ada kaitannya dengan kebencian dan kegetiran. Warga masyarakat awam beralih, dengan sengaja, dari acuh tak acuh menuju kemarahan pada kelas politik, menuju penolakan yang bentuknya kian lama kian “ekspresif”. “kawanan” ini sedang melawan logika baru tersebut.
Kekurangan realitas sebagai titik rujukan, kelas politik modern menghasilkan hologram yang tidak sesuai ukuran aspirasinya, tapi pada ukuran kalendernya sekarang ini: mereka yang memerintah rakyat belum juga berhenti memerintah kota, provinsi, bangsa, seluruh dunia. Hanya saja kesekarangan merekalah yang menentukan rakyat, dan mereka harus menunggu pemilu berikutnya bagi langkah berikutnya.
Bila negara-bangsa dulu punya kemampuan “melihat jauh ke depan” dan memproyeksikan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi modal untuk berkembang biak in crescendo, dan turut menolongnya menangani krisis-krisis periodik, penghancuran dasar fundamentalnya itu menghalanginya merampungkan tugas tersebut.
“Biduk” sosial sedang terombang ambing, dan masalahnya bukan Cuma mereka kekurangan kapten yang cakap. Masalahnya adalah mereka telah mencuri kemudinya, dan ia tidak berbelok kemana-mana.
Bila uang adalah dinamit, politisi adalah “reserse” penghancuran ini. Dengan enghancurkan dasar-dasar Negara-Bangsa, kelas politik tradisional juga menghancurkan alibinya: para atlet politik yang maha bertenaga itu kini memandang, dengan takjub dan tak percaya, pada si penjaga toko, yang tak punya gagasan apapun soal tata kelola negara. Ia bukannya mengalahkan mereka, ia begitu saja menggantikan mereka.
Kelas politik tradisional tak mampu membangun kembali fondasi-fondasi negara-Bangsa. Seperti burung pemakan bangkai, ia puas memakan sisa-sisa sebuah negara. Ia lahap lumpur serta darah di atas apa yang telah dibangun oleh imperium uang. Sembari ia makan, juragan duit menunggu di meja.
Pasar bebas telah mengalami metamorfosis mengerikan: kini anda bebas memilih mau pergi ke pusat belanja yang mana, tapi toko-tokonya sama dan merk-merknya juga sama. Kebebasan awal palsu dalam tirani dagang, ”penawaran bebas dan permintaan bebas”, koyak sudah!
Dasar-dasar demokrasi barat telah didinamit. Kampanye dan pemilu digelar di atas reruntuhannya. Kembang api pemilu berpijar begitu tinggi, begitu tingginya sampai tidak bisa menerangi puing-puing yang menimbun kerja politik, bahkan sedikitpun.
Dengan cara yang sama, tulang belakang kerja pemerinyahan, nalar negara, tidak lagi berguna. Kini nalar pasrah lah yang mengendalikan politik. Buat apa memperkerjakan politisi bila analisis pasar jauh memahami logika baru kekuasaan. Politisi artinya negarawan profesional, telah digantikan oleh manajer. Maka visi negara pun ditata ulang sebagai visi pemasaran (si manajer tak lebih dari seorng mandor yang dengan gigih percaya bahwa sukses perusahaan adalah sukses pribadinya juga). Cakrawala pun menyusut, bukan hanya dalam kaidah jarak, tapi juga kedalaman.
Kaum poitisi tradisional dan intelektual mereka, yang kini yatim piatu dan menjanda, menjambaki rambut mereka (kalau masih punya), lalu melagukan alibi-alibi anyar berulang kali guna menaikkan posisi mereka dalam pasar gagasan: percuma. Yang berjualan di situ seabrek-abrek, sedangkan yang beli tidak ada.
Berpaling dari kelas politik tradisional sebagai mitra dalam perjuangan perlawanan adalah latihan nostalgia yang bagus. Berpaling pada neo-politisi adalah gejala skizofrenia. Yang ada yang bisa dikerjakan di atas sana, kecuali bertaruh bahwa barangkali ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Ada orang-orang yang khusuk mengkhayalkan bahw kemudi itu ada dan mereka berjuang untuk memilikinya. Aa orang-orang yang mencari kemudi itu, yakin bahwa ia tertinggal di suatu tempat. Dan ada orang-orang yang membuat pulau, bukan sebagai tempat pengungsian rasa puas diri, melainkan sebagai biduk untuk menemukan pulau yang lain, pulai lainnya, dan yang lain lagi.
Tidak ada lagikah kini cita-cita nasional yang bisa menyatukan polis, bangsa dan masyarakat? Atau tak ada lagikah kini politisi yang sanggup mengemban maksud-maksud tersebut? Diskreditasi politik lebih dari sekedar itu: ini ada kaitannya dengan kebencian dan kegetiran. Warga masyarakat awam beralih, dengan sengaja, dari acuh tak acuh menuju kemarahan pada kelas politik, menuju penolakan yang bentuknya kian lama kian “ekspresif”. “kawanan” ini sedang melawan logika baru tersebut.
Kekurangan realitas sebagai titik rujukan, kelas politik modern menghasilkan hologram yang tidak sesuai ukuran aspirasinya, tapi pada ukuran kalendernya sekarang ini: mereka yang memerintah rakyat belum juga berhenti memerintah kota, provinsi, bangsa, seluruh dunia. Hanya saja kesekarangan merekalah yang menentukan rakyat, dan mereka harus menunggu pemilu berikutnya bagi langkah berikutnya.
Bila negara-bangsa dulu punya kemampuan “melihat jauh ke depan” dan memproyeksikan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi modal untuk berkembang biak in crescendo, dan turut menolongnya menangani krisis-krisis periodik, penghancuran dasar fundamentalnya itu menghalanginya merampungkan tugas tersebut.
“Biduk” sosial sedang terombang ambing, dan masalahnya bukan Cuma mereka kekurangan kapten yang cakap. Masalahnya adalah mereka telah mencuri kemudinya, dan ia tidak berbelok kemana-mana.
Bila uang adalah dinamit, politisi adalah “reserse” penghancuran ini. Dengan enghancurkan dasar-dasar Negara-Bangsa, kelas politik tradisional juga menghancurkan alibinya: para atlet politik yang maha bertenaga itu kini memandang, dengan takjub dan tak percaya, pada si penjaga toko, yang tak punya gagasan apapun soal tata kelola negara. Ia bukannya mengalahkan mereka, ia begitu saja menggantikan mereka.
Kelas politik tradisional tak mampu membangun kembali fondasi-fondasi negara-Bangsa. Seperti burung pemakan bangkai, ia puas memakan sisa-sisa sebuah negara. Ia lahap lumpur serta darah di atas apa yang telah dibangun oleh imperium uang. Sembari ia makan, juragan duit menunggu di meja.
Pasar bebas telah mengalami metamorfosis mengerikan: kini anda bebas memilih mau pergi ke pusat belanja yang mana, tapi toko-tokonya sama dan merk-merknya juga sama. Kebebasan awal palsu dalam tirani dagang, ”penawaran bebas dan permintaan bebas”, koyak sudah!
Dasar-dasar demokrasi barat telah didinamit. Kampanye dan pemilu digelar di atas reruntuhannya. Kembang api pemilu berpijar begitu tinggi, begitu tingginya sampai tidak bisa menerangi puing-puing yang menimbun kerja politik, bahkan sedikitpun.
Dengan cara yang sama, tulang belakang kerja pemerinyahan, nalar negara, tidak lagi berguna. Kini nalar pasrah lah yang mengendalikan politik. Buat apa memperkerjakan politisi bila analisis pasar jauh memahami logika baru kekuasaan. Politisi artinya negarawan profesional, telah digantikan oleh manajer. Maka visi negara pun ditata ulang sebagai visi pemasaran (si manajer tak lebih dari seorng mandor yang dengan gigih percaya bahwa sukses perusahaan adalah sukses pribadinya juga). Cakrawala pun menyusut, bukan hanya dalam kaidah jarak, tapi juga kedalaman.
Kaum poitisi tradisional dan intelektual mereka, yang kini yatim piatu dan menjanda, menjambaki rambut mereka (kalau masih punya), lalu melagukan alibi-alibi anyar berulang kali guna menaikkan posisi mereka dalam pasar gagasan: percuma. Yang berjualan di situ seabrek-abrek, sedangkan yang beli tidak ada.
Berpaling dari kelas politik tradisional sebagai mitra dalam perjuangan perlawanan adalah latihan nostalgia yang bagus. Berpaling pada neo-politisi adalah gejala skizofrenia. Yang ada yang bisa dikerjakan di atas sana, kecuali bertaruh bahwa barangkali ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Ada orang-orang yang khusuk mengkhayalkan bahw kemudi itu ada dan mereka berjuang untuk memilikinya. Aa orang-orang yang mencari kemudi itu, yakin bahwa ia tertinggal di suatu tempat. Dan ada orang-orang yang membuat pulau, bukan sebagai tempat pengungsian rasa puas diri, melainkan sebagai biduk untuk menemukan pulau yang lain, pulai lainnya, dan yang lain lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar