Rabu, 02 September 2009

Mengapa AIDS Identik Dengan Homoseksual?

Pada tahun 1978 lebih dari 1000 pria homoseksual Amerika Serikat menjadi target eksperimen vaksinasi Hepatitis B yang disponsori oleh National Institute of Healt (NIH) serta Center of Disease (CDC), yang dijalankan oeh kepala Bank Daerah New York, Yaitu Dr. Wolf Schmugner, seorang Yahudi yang lahir di Polandia pada tahun 1919. Vaksin yang diberikan ini sengaja disertai dengan senjata bilogi yang bernama virus AIDS. Hal ini merupakan salah satu tujuan dari konspirasi Yahudi Amerika Serikat untuk mengurangi jumlah penduduk (program semacam ini lebih dulu dilakukan di Afrika pada tahun 1972 melalui Organisasi Kesehatan Dunia, WHO). Menurut laporan CDC pada tahun 1981, hanya 6% penerima vaksin Hepatitis B yang terinfeksi AIDS. Namun akhirnya pada tahun 1984 terungkap bahwa jumlah yag sesungguhnya adalah 64%. Meskipun laporan yang lengkap sulit diketahui karena seluruh studi dirahasiakan, fakta ini cukup menjelaskan mengapa kaum homoseksual begitu identik dengan AIDS, sesuatu yang setengah abad lalu belum mewabah, bahkan hampir tidak dikenal.

Malaysia Mengalami Krisis Identitas

Tanggal 31 Agustus kemarin merupakan hari kemerdekaan Malaysia, dengan demikian negara tetangga kita tersebut genap berusia 52 tahun (diberi kemerdekaan Inggris pada 31 Agustus 1957). Apabila kita perhatikan berdasarkan sejarahnya, negara Malaysia didominasi oleh budaya Melayu, Cina, dan India, bahkan sampai saat ini. Sementara itu, budaya Melayu sendiri berasal dari Siak (Sumatera) dan Bugis (Sulawesi). Dengan kondisi seperti itu maka akibatnya adalah tidak adanya budaya khas asli Malaysia yang bisa dibanggakan. Maka dari itu meskipun Malaysia lebih berhasil di bidang ekonomi, tetapi tidak di bidang identitas kebangsaannya.
Kemudian apabila kita bandingkan, perkembangan ekonomi Indonesia memang belum se-pesat Malaysia, namun dalam hal semangat kebangsaaan Indonesia dapat dikatakan jauh lebih unggul dibandingkan Malaysia. Oeh karena itu, meskipun Indonesia masih sering diterpa berbagai krisis, akan tetapi Indonesia masih tetap kokoh. Apalagi Indonesia yang sangat luas (seluas benua Eropa) dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, mempunyai peluang yang sangat besar untuk menjadi negara raksasa baru di Asia.
Tidak demikian dengan Malaysia, negara ini tidak mempunyai kekhasan nasional Malaysia. Karena sampai saat ini belum memiliki identitas budaya itulah yang secara sadar ataupun tidak sadar mendorong mereka untuk mengklaim budaya bangsa lain, seperti lagu Rasa Sayange, Batik, Reog, Angklung, Rendang dan Wayang dari Indonesia, dan akhir-akhir ini yang sedang marak diberitakan adalah klaim tari Pendet dari Bali, dan lagu kebangsaan Malaysia (Negaraku) merupakan hasil ”daur ulang” dari lagu Terang Bulan yang merupakan ciptaan orang Indonesia dan sudah ada sejak 1956. Dengan kondisi seperti ini maka menjadi jelas bahwa sampai usia 52 tahun ini Malaysia Terancam Krisis Identitas.
Semoga saja dalam ulang tahunnya yang ke-52, Malaysia menyadari bahwa pengakuan berbagai budaya tersebut (meskipun tidak semuanya dilakukan oleh pemerintahnya) dapat mengancam hubungan harmonis antara kedua negara. Sebaliknya, Indonesia juga harus bersikap tegas, agar klaim yang menyinggung harga diri bangsa itu tidak terjadi secara terus menerus.

Referensi : KR edisi Senin, 31 Agustus 2009, hlm. 14.

Surat Karl Marx Kepada Bauch Levi (sebagaimana dikutip Review de Paris, 1 Juni 1928, hlm. 574)

Orang-orang Yahudi secara keseluruhan akan menjadi nabi mereka sendiri. Mereka akan mendminasi dunia dengan melenyapkan ras-as lainnya dan mendirikan sebuah republic dunia, di mana hak-hak istimewa akan diberlakukan untuk mereka sendiri. Di tatanan Dunia Baru (New World Order) ini, anak-anak Israel akan mengengkat seluruh Pemimpinnya (yang mereka kehendaki) tanpa menghadapi perlawanan.

Einstein Sang Pembohong


Pada suatu ketika Albert Einstein menulis,”The Jews are the men who will not be blamed for nothing.” Maksudnya adalah ia, sebagai Yahudi telang menyumbangkan rumus E=MC² bagi ilmu pengetahuan.
Salah satu kebohongan terbesar yang dilakukan Yahudi adalah dengan mempropagandakan Albert Einstein, yang disebut-sebut sebagai penemu rumus E=MC², sebagai jenius. Namun Nexus Magazine, vol.11, No.1, edisi Desember-Januari 2004, telah mebongkar kebohongan tersebut. Menurut majalah ini, Einstein mengambil rumus E=MC² dari Jules Henri Poincare (1854-1912) yang dikenal sbagai pakar terkemuka teori relativitas. Oleh karena itu, Einstein tidak pernah dapat menurunkan (membuat rumus turunan) rumus “yang ditemukannya itu” dengan benar. Nexus Magazine juga menyebutkan sejumlah alas an mengapa para fisikawan yang sebenarnya mengetahui kebohongan ini memilih untuk bungkam. Salah satu alasannya adalah agar fisika tetap dianggap sebagai disiplin ilmu yang memiliki prestise lebih besar daripada ilmu yang lainnya, dan dengan demikian memudahkan mereka mendapatkan sponsor untuk mendanai berbagai aktivitas.

Joseph Stalin Adalah Keturunan Yahudi


Joseph Stalin terlahir dengan nama Losif Djugashvili, (nama “Stalin” yang dalam bahas Rusia berarti pria baja, baru digunakan pada tahun 1913). Dalam bahasa Georgia, tempat Stalin dilahirkan pada tanggal 21 Desember 1879, “Shvili” berarti ‘putra dari’ atau ‘putra’. Sementara “Djuga” berarti Yahudi. Dengan demikian, nama “Djugashvili” berarti putra Yahudi. Nama ini sangat umum di kalangan Yahudi di tempat kelahiran Stalin. Pada masa revolusi, ia mengganti namanya menjadi “Kochba”, nama ini diambil dari nama pemimpin Yahudi selama pemberontakan anti Roma. Orang-orang Rusia dan Georgia tidak pernah mengubah nama mereka. Hanya keturunan Yahudi yang biasa mengubah nama mereka, dan salah satunya adalah Stalin.
Stalin remaja dididik oleh seorang Yahudi asal Gori bernama David Papismedov. Yahudi ini banyak membantu ibunda Stalin, dan memberikan Stalin uang, buku-buku bacaan, dan motivasi. Hubungan Stalin dengan Papismedov terus berlangsung setelah Stalin berkuasa. Stalin pernah menikah tiga kali, dan ketiga istrinya yaitu Ekaterina Svanidze, Kadya Allevijah, dan Rosa Kaganovich, adalah Yahudi.

Lenin Adalah Keturunan Yahudi


Dalam artikel yang muncul di harian Jewish Chronicle edisi 21 April 1995, Zev Ben-Shlome menyatakan bahwa kakek dari ibunda Vladimir Lenin adalah Yahudi. Garis keturunan Yahudi Lenin juga dibahas secara terperinci dalam biografi yang berjudul Lenin yang ditulis oleh Robert Service. Buyut Lenin bernama Moishe Itskovich Blank, dan kakeknya bernama Srul Moishevich Blank. Saat dibaptis, Blank mengganti namanya mejadi Aleksandr Dmitrievich.
Bukti bahawa Lenin adalah keturunan Yahudi juga terungkap dari surat saudara perempuannya, Anna, kepada Stalin. Dalam surat tersebut Anna menulis, “Mungkin bukan merupakan rahasia bagi anda bahwa penyelidikan kakek kami menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga Yahudi miskin, bahwa ia adalah, (sebagaimana disebutkan dalam sertifikat pembabtisannya) anak dari Moishe Blank dari Zhitomir (Ukraina), dan fakta ini dapat digunakan untuk memerangi anti-Semitisme”. Anna juga mengatakan bahwa fakta Lenin berdarah Yahudi menegaskan lebih jauh mengenai pengetahuannya yang luas tentang suku-suku Semit, dan bahwa Lenin menilai orang-orang Yahudi begitu tinggi.
Bukti-bukti lainnya bahwa Lenin keturunan Yahudi adalah ia menikahi seoarng wanita Yahudi Bolshevik bernama Nadezhda Konstantinova Krupskaya, dapat berbahasa Yiddih (campuran bahasa ibrani dan Jerman) serta menyatakan anti-semit sebagai perbuatan kriminal.

Wiston Churchill Adalah Keturunan Yahudi

Churchill memiliki ibu berdarah Yahudi, Jennie Jerome. Ayah dari ibu Churchll (kakek Churchill), Leonard Jerome (sbelumnya Jacobson, 1818-1891) adalah seorang spekulator dan rekan bisnis August Belmont, yang merupakan perwakilan utama Rothschild di Amerika.
Di Inggris, keturunan bankir Yahudi kaya biasa dinikahkan dengan keturunan Aristokrat. Ibunda Churchill adalah salah satunya, yang dinikahkan dengan Rudolph Churchill, anak kedua dari Duke of Marlborough. Bangsawan ini sebenarnya tidak merestui pernikahan anaknya dengan seorang Yahudi. Namun pernikahan tetap dilaksanakan pada tahun 1874 setelah Leonard Jerome menyerahkan “uang mahar” sebesar 50.000 poundsterling.
Churchill yang lahir pada tahun 1874, menjadi penulis sukses pada usia 24 tahun. Berkat relasi ibunya degan orang-orang Rothschild, termasuk bankir Ernest Cassell yang sangat berpengaruh. Churchill dapat menjadi anggota kabinet pada usia 33 tahun. Pada dekade 1930 ia menjadi wakil Yahudi kalangan atas di pemerintahan. Salah satu pendukung utamanya adalah Sir Robert Waley-Cohen, seorang Zionis yang menjabat sebagai direktur British Shell. Seumur hidupnya, Churchill mengikuti nasihat Bernard Baruch, miliuner Yahudi AS yang juga menjadi penyandang dana dirinya.

Adolf Hitler Adalah Keturunan Yahudi


Menurut Langer, “Ada beberapa orang yang sangat meragukan bahwa Johan Georg Hiedler adalah ayah Alois (ayah Adolf Hitler). Thyssen dan Kohler sebagai contoh, mengklaim bahwa Kanselir Dollfuss (Kanselir Austria) telah memerintahkan kepolisian Rusia untuk melakukan penyelidikan mendalam mengenai keluarga Hitler. Sebagai hasil penyelidikan ini, sebuah dokumen rahasia membuktikan bahwa Maria Anna Schickgruber (nenek Hitler) tinggal di Wina saat ia mengandung. Pada waktu itu ia bekerja sebagai pembantu di rumah Baron Rothschild (Anselm Salomon Rothschild, 1803-1874). Segera setelah keluarga ini mengetahui kehamilannya, ia diperintahkan kembali ke Spital, dimana Alois dilahirkan. Bila benar bahwa salah satu keluarga Rothschild adalah ayah Alois Hitler yang sesungguhnya, maka hal ini akan menjadikan Adolf Hitler seperempat Yahudi. Menurut sumber-sumber ini Adolf Hitler mengetahui keberadaan dokumen rahasia tersebut dan bukti yang terdapat di dalamnya. Menurut cerita, ia gagal mendapatkan dokumen tersebut karena Dollfuss telah merahasiakannya dan telah menyampaikan kepada Schuschingg (Kanselir pengganti Dollfuss) di mana keberadaannya, sehingga bila Dollfuss meninggal, kemerdekaan Austria akan tetap dapat dipertahankan” (Langer, The Mind of Adolf Hitler, hlm. 107).

Kemudian menurut Gerhard Kessler, dalam bukunya yang berjudul Die Familiennamen der Juden in Deutschland (Leipzig, 1935), nama “Hitler” sama dengan “Huttler” atau “Hiedler”. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Konrad Heiden yang menyebutkan bahwa di tempat kelahiran Adolf Hitler tersebut, Braunau-am-Inn Austria, banyak orang Yahudi dengan nama “Hitler”, “Hiedler” ataupun “Huttler”. Oleh karena itu masuk akal apabila hal pertama yang dilakukan Hitler setelah menduduki Austria adalah menghancurkan seluruh makam, desa, ataupun jalan yang menggunakan nama-nama tersebut untuk kemudian dibangun pangkalan militer di atasnya. Penelitian Konrad Heiden juga mendapatkan bahwa salah seorang leluhur ibu Hitler yang bernama Johann Solomon adalah Yahudi. Dalam memoar Hans Frank disebutkan bahwa setelah berkuasanya Hitler, yang mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi, memerintahkan pengacara tersebut untuk mencari segala dokumen yang berkaitan dengan leluhurnya di Austria. Kepada Hans Frank, Hitler mengatakan tentang hubungannya dengan ayahnya yang setengah Yahudi dan dibencinya, “Itu (hubungan dengan ayahnya) adalah hal yang paling memalukan dan menjijikkan yang pernah saya alami”.

Hans Frank pula yang turun tangan ketika keponakan Adolf Hitler, Willam Patrick Hitler (putra Alois Hitler yang lahir di Irlandia), mengancam akan membeberkan silsilah Yahudi pamannya. Karena pemerasan ini Hitler terpaksa mengirim uang secara rutin kepada William. Pada saat-saat terakhir sebelum digantung Hans Frank juga mengakui bahwa Hitler adalah keturunan Yahudi. Bahkan saat mengenyam pendidikan di sekoah asrama Katolik di Linz, Hitler biasa dijuluki oleh kepala sekolahnya sebagai “berandal Yahudi”.

Keterangan bahwa Hitler adalah keturunan Yahudi juga datang dari Bridget Hitler (istri kakak tiri Adolf Hitler) yang menulis dalam memoarnya, “Nenek kami (Maria Anna Schickgruber) menerima tunjangan anak dari seorang pengusaha Yahudi yang mungkin merupakan perantara bagi kakeknya (Baron Rothschild)”. Ia lalu mengutip kata-kata Paula, adik Adolf Hitler, “Setelah Adolf memulai undang-undang mengenai ras, kami –Adolf dan saya- tidak lagi memiliki kakek”. Ini berarti bahwa kakek Adolf Hitler, baik Baron Rothschild maupun bukan, adalah Yahudi.

Sumber : Donny Rickyanto, Yahudi Dalang Perang Dunia I & II, Yogyakarta, Milestone, 2009.