Tanggal 31 Agustus kemarin merupakan hari kemerdekaan Malaysia, dengan demikian negara tetangga kita tersebut genap berusia 52 tahun (diberi kemerdekaan Inggris pada 31 Agustus 1957). Apabila kita perhatikan berdasarkan sejarahnya, negara Malaysia didominasi oleh budaya Melayu, Cina, dan India, bahkan sampai saat ini. Sementara itu, budaya Melayu sendiri berasal dari Siak (Sumatera) dan Bugis (Sulawesi). Dengan kondisi seperti itu maka akibatnya adalah tidak adanya budaya khas asli Malaysia yang bisa dibanggakan. Maka dari itu meskipun Malaysia lebih berhasil di bidang ekonomi, tetapi tidak di bidang identitas kebangsaannya.
Kemudian apabila kita bandingkan, perkembangan ekonomi Indonesia memang belum se-pesat Malaysia, namun dalam hal semangat kebangsaaan Indonesia dapat dikatakan jauh lebih unggul dibandingkan Malaysia. Oeh karena itu, meskipun Indonesia masih sering diterpa berbagai krisis, akan tetapi Indonesia masih tetap kokoh. Apalagi Indonesia yang sangat luas (seluas benua Eropa) dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, mempunyai peluang yang sangat besar untuk menjadi negara raksasa baru di Asia.
Tidak demikian dengan Malaysia, negara ini tidak mempunyai kekhasan nasional Malaysia. Karena sampai saat ini belum memiliki identitas budaya itulah yang secara sadar ataupun tidak sadar mendorong mereka untuk mengklaim budaya bangsa lain, seperti lagu Rasa Sayange, Batik, Reog, Angklung, Rendang dan Wayang dari Indonesia, dan akhir-akhir ini yang sedang marak diberitakan adalah klaim tari Pendet dari Bali, dan lagu kebangsaan Malaysia (Negaraku) merupakan hasil ”daur ulang” dari lagu Terang Bulan yang merupakan ciptaan orang Indonesia dan sudah ada sejak 1956. Dengan kondisi seperti ini maka menjadi jelas bahwa sampai usia 52 tahun ini Malaysia Terancam Krisis Identitas.
Semoga saja dalam ulang tahunnya yang ke-52, Malaysia menyadari bahwa pengakuan berbagai budaya tersebut (meskipun tidak semuanya dilakukan oleh pemerintahnya) dapat mengancam hubungan harmonis antara kedua negara. Sebaliknya, Indonesia juga harus bersikap tegas, agar klaim yang menyinggung harga diri bangsa itu tidak terjadi secara terus menerus.
Referensi : KR edisi Senin, 31 Agustus 2009, hlm. 14.
Rabu, 02 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

kok bisa tau sih?
BalasHapus