Menurut Langer, “Ada beberapa orang yang sangat meragukan bahwa Johan Georg Hiedler adalah ayah Alois (ayah Adolf Hitler). Thyssen dan Kohler sebagai contoh, mengklaim bahwa Kanselir Dollfuss (Kanselir Austria) telah memerintahkan kepolisian Rusia untuk melakukan penyelidikan mendalam mengenai keluarga Hitler. Sebagai hasil penyelidikan ini, sebuah dokumen rahasia membuktikan bahwa Maria Anna Schickgruber (nenek Hitler) tinggal di Wina saat ia mengandung. Pada waktu itu ia bekerja sebagai pembantu di rumah Baron Rothschild (Anselm Salomon Rothschild, 1803-1874). Segera setelah keluarga ini mengetahui kehamilannya, ia diperintahkan kembali ke Spital, dimana Alois dilahirkan. Bila benar bahwa salah satu keluarga Rothschild adalah ayah Alois Hitler yang sesungguhnya, maka hal ini akan menjadikan Adolf Hitler seperempat Yahudi. Menurut sumber-sumber ini Adolf Hitler mengetahui keberadaan dokumen rahasia tersebut dan bukti yang terdapat di dalamnya. Menurut cerita, ia gagal mendapatkan dokumen tersebut karena Dollfuss telah merahasiakannya dan telah menyampaikan kepada Schuschingg (Kanselir pengganti Dollfuss) di mana keberadaannya, sehingga bila Dollfuss meninggal, kemerdekaan Austria akan tetap dapat dipertahankan” (Langer, The Mind of Adolf Hitler, hlm. 107).
Kemudian menurut Gerhard Kessler, dalam bukunya yang berjudul Die Familiennamen der Juden in Deutschland (Leipzig, 1935), nama “Hitler” sama dengan “Huttler” atau “Hiedler”. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Konrad Heiden yang menyebutkan bahwa di tempat kelahiran Adolf Hitler tersebut, Braunau-am-Inn Austria, banyak orang Yahudi dengan nama “Hitler”, “Hiedler” ataupun “Huttler”. Oleh karena itu masuk akal apabila hal pertama yang dilakukan Hitler setelah menduduki Austria adalah menghancurkan seluruh makam, desa, ataupun jalan yang menggunakan nama-nama tersebut untuk kemudian dibangun pangkalan militer di atasnya. Penelitian Konrad Heiden juga mendapatkan bahwa salah seorang leluhur ibu Hitler yang bernama Johann Solomon adalah Yahudi. Dalam memoar Hans Frank disebutkan bahwa setelah berkuasanya Hitler, yang mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi, memerintahkan pengacara tersebut untuk mencari segala dokumen yang berkaitan dengan leluhurnya di Austria. Kepada Hans Frank, Hitler mengatakan tentang hubungannya dengan ayahnya yang setengah Yahudi dan dibencinya, “Itu (hubungan dengan ayahnya) adalah hal yang paling memalukan dan menjijikkan yang pernah saya alami”.
Hans Frank pula yang turun tangan ketika keponakan Adolf Hitler, Willam Patrick Hitler (putra Alois Hitler yang lahir di Irlandia), mengancam akan membeberkan silsilah Yahudi pamannya. Karena pemerasan ini Hitler terpaksa mengirim uang secara rutin kepada William. Pada saat-saat terakhir sebelum digantung Hans Frank juga mengakui bahwa Hitler adalah keturunan Yahudi. Bahkan saat mengenyam pendidikan di sekoah asrama Katolik di Linz, Hitler biasa dijuluki oleh kepala sekolahnya sebagai “berandal Yahudi”.
Keterangan bahwa Hitler adalah keturunan Yahudi juga datang dari Bridget Hitler (istri kakak tiri Adolf Hitler) yang menulis dalam memoarnya, “Nenek kami (Maria Anna Schickgruber) menerima tunjangan anak dari seorang pengusaha Yahudi yang mungkin merupakan perantara bagi kakeknya (Baron Rothschild)”. Ia lalu mengutip kata-kata Paula, adik Adolf Hitler, “Setelah Adolf memulai undang-undang mengenai ras, kami –Adolf dan saya- tidak lagi memiliki kakek”. Ini berarti bahwa kakek Adolf Hitler, baik Baron Rothschild maupun bukan, adalah Yahudi.
Sumber : Donny Rickyanto, Yahudi Dalang Perang Dunia I & II, Yogyakarta, Milestone, 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar